Assalamu’alaikum

Selamat malam sobatku semuanya semoga malam ini dalam keadan sehat wal’afiat… Amin…

pada kesempatan kali ini aku mau nulis apa yang aku pernah pelajari dan belum paham-paham

Langsung aja pokoknya yaitu Hukum mendalami ilmu mantiq.

Mengenai hukum boleh&tidaknya mendalami ilmu mantiq itu ada 3 :

1. Tidak boleh, ini adalah pendapat Imam Taqiyyuddin Abu amr,Ustman Bin Ash-Shalah(1181-1243 M) dan Imam Abu Zakariyya yahya bin Syarof An-Nawawi(1233-1277 M).

Keduanya mengemukakan fatwa bahwa mempelajari ilmu mantiq(logika)hukumnya haaram.

2. Boleh, bahkan dianjurkan mempelajari ilmu mantiq, pendapat ini dikemukakan oleh sekelompok ulama’ ,

Antara lain Imam Al-Ghozali(1059-1111M),Imam At-Tibrini(wafat 1109M),Ibnu Bajah(1100-1138M),Al-Asnawi(1198-1283M), As-Samarqandi(wafat 1291M), dan Al-Abhari(wafat 1296M).

Literatur ilmu mantiq di zaman orang-orang tersebut terus berkembang.

3. Boleh bagi orang yang fikirannya telah sempurna dan benar benar memahami Hadist Nabi,Ayat-ayat Al-Qur an dan mengetahui aqidah aqidah yang benar&aqidah tidak benar.

Imam Al-Ghozali, komentator ilmu mantiq yang handal bekata:

“sesungguhnya orang yang tidak menguasai ilmu mantiq,tidak dapat dipertanggung jawabkan ilmunya.

Atas dasar dasar ungkapan imam Al-Ghozali,kita dapat memahami bahwa betapa pentingnya ilmu mantiq itu.Barangkali ini,Ilmu Mantiq dinamakan ilmu dari segala ilmu (Mi’yarul Ulum),ilmu timbangan dari segala ilmu (Ilmu Al-Mizan).

Mempelajari ilmu mantiq seperti halnya mempelajari ilmu pasti,yakni secara tidak langsung memperoleh manfa’at dari ilmu itu sendiri.

Tapi ilmu mantiq ini sebagai wasilah untuk ilmu ilmu lainya. Disamping itu,untuk melihat dan mencapai sampai dimana kebenaran ilmu itu.

Dengan demikian jelas hubungan ilmu mantiq dengan ilmu ilmu lain sulit dipisahkan.

Pengaruh pendapat yang mengharamkan mendalami ilmu mantiq itu mencapai puncaknya pada abad XIV, seiring dengan menurunnya kekuasaan umat Islam,dan pada masa itulah Imam Taqiyyudin bin Taimiyyah(1263-1328M) menentang keras terhadap ilmu mantiq.

Pandangannya dalam ilmu mantiq dikemukakan dalam Kitab karangannya yang berjudul FASHIHATU AHLI FI RODDI MANTIQIL YUNAN.

Kemudian diteruskan oleh Syekh Sa’duddin At-Taftazani(1322-1380M). Ia menegaskan dalam kitab karangannya yang bertitel TAHDHIBUL MANTIQI WAL KALAM tentang hukum haram mempelajari ilmu Mantiq(logika).

Perbedaan dalam hal hukum mempelajari ilmu mantiq ini semata-mata bernisbat pada ilmu mantiq yang telah disuspi ucapan ahli filsafat yang menjadikan ilmu mantiq sebagai alat embelan bagi teologi semata mata.

Adapun kitab-kitab yang murni membahas ilmu mantiq,Seperti MUKHTASHOR IMAM SANUSI dan Kitab AS-SYAMSIYAH. Maka tidak ada perbedaan pendapat dalam hukum mempelajarinya, bahkan mempelajarinya adalah FARDHU KIFAYAH, karna adanya penjelasan pengetahuan tentang bantahan terhadap keraguan dan kesalah pahaman terhadap ilmu mantiq.

Adapun mengenai pendapat ketiga yang membolehkan mempelajari ilmu mantiq dengan syarat cerdas akalnya, karna dengan kecerdasan ia dapat membentengi aqidah Islamnya,dan tidak akan terpengaruh oleh teori teori dan pemikiran pemikiran sesat yang ia temui.Orang yang tidak cerdas akalnya tidak boleh mempelajari ilmu mantiq. Sebab ia pasti tidak bakal mampu menyangkal penyimpangan penyimpangan fikiran-fikiran tentang aqidah yang ia jumpai dalam buku yang ia pelajari,bahkan bisa jadi fikiran-fikiran sesat itu mempengaruhi hatinya.

Demikian juga orang yang cerdas tapi tidak memahami Hadist Nabi Saw.dan Al-Qur an. Oleh karna itu, golongan mayoritas ulama’ melarang mempelajari buku-buku yang mengandung fikiran-fikiran ahli filsafat,kecuali yang luas ilmu pengetahuannya.

Cukup segini dulu coretan hari ini. bab selanjutnya insya allah dipost secepatnya

Semoga bermanfa’at untuk aku,kau,dia,kita,dan mereka

Mangan kupat dicampur nganggo santen menawi lepat kulo nyuwun ngapunten

Wassalamu’alaikum

assalamualaikum

Selamat malam sobat semua ?sehat kan? Semoga

Bertemu lagi dengan saya yang suka corat coret seenaknya

Oke sob langsung aja ya ? kali ini saya mau corat coret tentang Asal Usul Sholawat

Mengenai hal tersebut…

Allah berfirman :

“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bersholawat untuk Nabi. Hay orang orang yang beriman, Bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”(QS.AL-Ahzab:56)

Tafsir dari Ayat diatas : Sesungguhnya Allah berrsholawat kepada NabiNya(dengan rahmat dan keri dloan) dan malaikat pun bersolawat kepadanya(dengan istighfar). Maka engkau wahai orang-orang yeng beriman kepada Allah dan RosulNya, bersholawatlah kepadanya(dan katakanlah allahumma solli ‘ala muhammad)

Didalam hadist Muslim,Ibnu Mas’ud meriwayatkan, bahwa pada suatu ketika para sahabat berada di majlis Sa’ad Ibnu Ubadah, rosululloh SAW datang kepada mereka. Kemudian Basyir Ibnu Sa’ad mengatakan : “Wahai Rosululloh, sesungguhnya Allah telah mengharuskan(menyuruh) kami untuk bersholawat kepadamu, bagaimana kami melakukannya?”

Pada separuh riwayat, seorang sahabat Nabi bertanya : “Wahay Rosululloh ,engkau telah mengajarkan kepada kami aturan aturan bersalam kepada engkau, bagaimana kami bersholawat yang sebenarnya?”

Rosululloh menjawab,katakan :”Allahumma solli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali muhammad kama shollaita ‘ala ibrohim wa ‘ala ali ibrohim innaka khamidummajid

Allahumma barik ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad kama barokta ‘ala ibrohim innaka khamidummajid”

Demikianlah asal usul sholawat. Sedangkan di dalam Ayat tersebut diatas (QS. AL-Ahzab:56) Allah SWT telah menceritakan, bahwa Dia dan para malaikat dilangit telah bersholawat kepada Nabi,setelah itu baru mengharuskan kepada penduduk dunia yang beriman untuk ikut serta bersholawat kepadanya. Dengan demikian, maka sholawat yang di lakukan para penghuni langit dan bumi telah bersatu dengan sholawat Allah SWT untuk Nabi kita Muhammad SAW.

Sejak pertanyaan para sahabat dan jawaban Rasulullah SAW sebagaimana tersebut dalam hadist di atas, orang orang mukmin telah mengetahui bagaimana cara bersholawat kepa Nabi-Nya. Sedang kita seakan akan tidak mampu untuk bersholaawat kepada beliau yang sangat tinggi martabatnya.Oleh karna itu,kita kembalikan lagi kepada Allah ,agar Dia lah yang beraholawat kepada beliau dan hal itu telah dibuktikan dengan jawaban Rhosululloh kepada para sahabatnya.

Mungkin sampai disini dulu posting ane hari ini, insya Allah kita lanjutkan lain waktu

Semoga bermanfaat untuk kau,aku,kita,dia, dan mereka

wasalam

Assalamu’alaikum . . .

Selamat malam sobat indwap semuanya semoga malam ini dalam keadan sehat wal’afiat… Amin…

pada kesempatan kali ini ane mau nulis apa yang ane pernah pelajari dan belum paham-paham :isin:

Langsung aja pokoknya yaitu Hukum mendalami ilmu mantiq.

Mengenai hukum boleh&tidaknya mendalami ilmu mantiq itu ada 3 :

1. Tidak boleh, ini adalah pendapat Imam Taqiyyuddin Abu amr,Ustman Bin Ash-Shalah(1181-1243 M) dan Imam Abu Zakariyya yahya bin Syarof An-Nawawi(1233-1277 M).

Keduanya mengemukakan fatwa bahwa mempelajari ilmu mantiq(logika)hukumnya haaram.

2. Boleh, bahkan dianjurkan mempelajari ilmu mantiq, pendapat ini dikemukakan oleh sekelompok ulama’ ,

Antara lain Imam Al-Ghozali(1059-1111M),Imam At-Tibrini(wafat 1109M),Ibnu Bajah(1100-1138M),Al-Asnawi(1198-1283M), As-Samarqandi(wafat 1291M), dan Al-Abhari(wafat 1296M).

Literatur ilmu mantiq di zaman orang-orang tersebut terus berkembang.

3. Boleh bagi orang yang fikirannya telah sempurna dan benar benar memahami Hadist Nabi,Ayat-ayat Al-Qur an dan mengetahui aqidah aqidah yang benar&aqidah tidak benar.

Imam Al-Ghozali, komentator ilmu mantiq yang handal bekata:

“sesungguhnya orang yang tidak menguasai ilmu mantiq,tidak dapat dipertanggung jawabkan ilmunya.

Atas dasar dasar ungkapan imam Al-Ghozali,kita dapat memahami bahwa betapa pentingnya ilmu mantiq itu.Barangkali ini,Ilmu Mantiq dinamakan ilmu dari segala ilmu (Mi’yarul Ulum),ilmu timbangan dari segala ilmu (Ilmu Al-Mizan).

Mempelajari ilmu mantiq seperti halnya mempelajari ilmu pasti,yakni secara tidak langsung memperoleh manfa’at dari ilmu itu sendiri.

Tapi ilmu mantiq ini sebagai wasilah untuk ilmu ilmu lainya. Disamping itu,untuk melihat dan mencapai sampai dimana kebenaran ilmu itu.

Dengan demikian jelas hubungan ilmu mantiq dengan ilmu ilmu lain sulit dipisahkan.

Pengaruh pendapat yang mengharamkan mendalami ilmu mantiq itu mencapai puncaknya pada abad XIV, seiring dengan menurunnya kekuasaan umat Islam,dan pada masa itulah Imam Taqiyyudin bin Taimiyyah(1263-1328M) menentang keras terhadap ilmu mantiq.

Pandangannya dalam ilmu mantiq dikemukakan dalam Kitab karangannya yang berjudul FASHIHATU AHLI FI RODDI MANTIQIL YUNAN.

Kemudian diteruskan oleh Syekh Sa’duddin At-Taftazani(1322-1380M). Ia menegaskan dalam kitab karangannya yang bertitel TAHDHIBUL MANTIQI WAL KALAM tentang hukum haram mempelajari ilmu Mantiq(logika).

Perbedaan dalam hal hukum mempelajari ilmu mantiq ini semata-mata bernisbat pada ilmu mantiq yang telah disuspi ucapan ahli filsafat yang menjadikan ilmu mantiq sebagai alat embelan bagi teologi semata mata.

Adapun kitab-kitab yang murni membahas ilmu mantiq,Seperti MUKHTASHOR IMAM SANUSI dan Kitab AS-SYAMSIYAH. Maka tidak ada perbedaan pendapat dalam hukum mempelajarinya, bahkan mempelajarinya adalah FARDHU KIFAYAH, karna adanya penjelasan pengetahuan tentang bantahan terhadap keraguan dan kesalah pahaman terhadap ilmu mantiq.

Adapun mengenai pendapat ketiga yang membolehkan mempelajari ilmu mantiq dengan syarat cerdas akalnya, karna dengan kecerdasan ia dapat membentengi aqidah Islamnya,dan tidak akan terpengaruh oleh teori teori dan pemikiran pemikiran sesat yang ia temui.Orang yang tidak cerdas akalnya tidak boleh mempelajari ilmu mantiq. Sebab ia pasti tidak bakal mampu menyangkal penyimpangan penyimpangan fikiran-fikiran tentang aqidah yang ia jumpai dalam buku yang ia pelajari,bahkan bisa jadi fikiran-fikiran sesat itu mempengaruhi hatinya.

Demikian juga orang yang cerdas tapi tidak memahami Hadist Nabi Saw.dan Al-Qur an. Oleh karna itu, golongan mayoritas ulama’ melarang mempelajari buku-buku yang mengandung fikiran-fikiran ahli filsafat,kecuali yang luas ilmu pengetahuannya.

Cukup segini dulu posting ane hari ini ane mau tepar dulu
bab selanjutnya insya allah diposting secepatnya

Semoga bermanfa’at untuk aku,kau,dia,kita,dan mereka

Mangan kupat dicampur nganggo santen menawi lepat kulo nyuwun ngapunten

Assalamu’alaikum……
Selamat malam wan-kawan semua? pa kabar?baik kan ?

Mudah mudahan

Oke langsung aja Ane mulai ulasan tentang mantiq

Mantiq berasal dari kata Nathaqa(bhs arab) yang artinya berfikir atau bertutur kata yang benar.

Mantiq juga bermakna logika,

Logika sendiri berasal dari kata logos(bhs yunani)yang artinya fikiran atau kata sbagai pernyataan dari fikiran.

Jadi Mantiq(logika)adalah ilmu yang mempelajari fikiran yang dinyatakan dalam bahasa.

Ada beberapa definisi Mantiq yang disampaikan oleh para pakar,Antara lain:

1. Ilmu sebagai alat yang merupakan undang” dan bila undang” itu dipelihara dan diperhatikan,maka hati nurani manusia dapat terhindar dari fikiran yang salah.

2. Ilmu mengenai ketentuan” yang dijadikan petunjuk oleh manusia dalam berfikir ,sehingga ia jauh dari kemungkinan tergelincir dari pengetahuannya,jauh dari kemungkinan salah

3. Ilmu tentang hukum berfikir guna memelihara jalan fikiran dari setiap kekeliruan .

Mantiq itu membimbing dan menuntun seseorang supaya berfikir tepat dan benar.

Dari definisi” tersebut,boleh dikatakan hanya redaksinya saja yang berbeda sedangkan maksudnya sama,yaitu bagaimana cara berfikir yang baik,teliti dan hati” agar tidak salah dalam mengambil keputusan atau menetapkan suatu keputusan.

”Maka ambillah dasar dasar ilmu mantiq sebagai pedoman,yan mencakup banyak faedah dari cabang cabangnya”

“Saya namakan dengan Sullam Munauroq,yang dengannya dapat digapai langit dan bumi”

Mengingat betapa pentingnya ilmu mantiq,maka bagi setiap pelajar perlu megkaji dan memahami dasar” ilmu mantiq.

Dasar” ini menghimpun banyak cabang.dan seiap cabang mengandung banyak manfaat.

Cukup segini dulu ulasan tentang mantiq saat ini

Insya Allah bab berikutnya akan di ulas dalam posting selanjutnya

Semoga bermanfa’at bagi aku,kau,kita,dia dan mereka

Wassalamu’alaikum……

Pengertian Sholawat

Pengertian solawat
Solawat menurut arti bahasa :
1. KEBERKATAN
Allah berfirman “mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna
dan rahmat dari Tuhan mereka, dan
mereka itulah orang orang yang
mendapat petunjuk”(QS. AL-
Baqoroh:157)
2. DO’A Allah berfirman “Dan mendo’alah untuk
mereka. sesungguhnya do’a kamu itu
(menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka
dan Allah Maha Besar lagi Maha
Mengetahui”(QS. AT-Taubah:109) “Dan di antara orang orang arab itu’ada
yang beriman kepada Allah dan hari
kemudiandan memandang apa yang di
nafkahkannya(dijalan Allah) itu,sebagai
jalan mendekatkannya kepada Allah
dan sebagai jalan untuk memperoleh do’a Rosul SAW.(QS. AT-Taubah:99) Apabila solawat itu berarti do’a, maka
jelas bahwa barangsiapa membaca
solawat berarti dia berdo’a atau
memohon sesuatu kepada Allah SWT. Do’a dibagi menjadi dua macam:
1. Memohon kepada Allah agar
mendapatkan sesuatu untuk dirinya,
anaknya,keluarganya,atau untuk siapa
saja, dan memohon agar Allah
menyelamatkan mereka dari segala sesuatu yang tidak mereka kehendaki
dan mereka takuti.
2. Memohon agar Allah memuji Nabi
Muhammad SAW,seperi dengan
membaca SALLALLAHU ‘ALA
MUHAMMAD atau ALLAHUMMA SOLLI ‘ALA MUHAMMAD. Dari keterangan diatas ,maka solawat itu
sesuatu permohonan dari seseorang agar
Allah SWT Memuji Nabi Muhammad
AAW. Jika seseorang mengatakan “ya Allah
bersolawatlah kepada nabi Muhammad,”
berarti menunjukkan bahwa solawatnya
itu senantiasa di dahului oleh kata kata
“ya Allah” atau “Allahumma”. Oleh
karna itu, maka solawat dari orang tersebut berarti do’a atau permohonan. Lalu kenapa kita membaca solawat
kepada Nabi Muhammad segala…?
Padahal solawat yang kita baca, adalah
do’a semata mata yang apabila
dikabulkan oleh Allah, maka Allah
jualah yang bersolawat kepada beliau,bukan kita..? Jika seseorang mengatakan
“ALLAHUMMA SOLLI ”ALA
MUHAMMAD__ya Allah, beri solawatlah
kepada Muhammad” maka orang itu
menurut pengertian umum,sudah
membaca solawat kepada Nabi Muhammad SAW padahal dia tidak
mengatakan “USOLLI ‘ALA
MUHAMMAD__Aku bersolawat kepada
Muhammad” Imam As-Sakhawi dalam kitabnya, AL-
QAULUL BADII’ menjawab pertanyaan
diatas sebagai berikut :
“Kita memohon kepada Allah agar Dia
bersolawat kepada Nabi Muhammad.
Kita tidak beraolawat secara langsung, adalah karna justru Nabi Muhammad
SAWitu telah suci (bersih dari
kekurangan),sedangkan kita sebaliknya
(sangat banyak kekurangan).
Bagaimana kita sebagai orang yang
banyak kekurangan akan bersolawat kepada orang yang lebih sempurna?.
Oleh karna itu, kita serahkan saja
kepada Allah Yang Maha Suci agar
bersolawat kepada Nabi yang Suci itu. Segini dulu ulasan kita malam ini
semoga bisa di pahami dan bermanfa’at
untuk aku’kau,dia,kita dan mereka

Assalamu’alaikum…

man teman semua…

Selamat datang
Salam kenal

Assalamu’alaikum…

man teman semua…

Selamat datang
Salam kenal